Wednesday, May 25, 2011
Pentingnya Pembuatan Curriculum Vitae
Sunday, December 5, 2010
Sistem Monitoring Lingkungan dengan Media Telepon Selular
riset telah dilakukan oleh:
Bramanti Dwi Kurniawan (Fisika ITB 2008)
Sumarni (Matematika ITB 2008)
Alip Firmansah (Kimia ITB 2008)
Pembimbing (Dr. Suprijadi)
Sunday, October 10, 2010
Pasar Seni ITB 2010
Pasar seni yang diadakan dengan durasi sepuluh jam ini berhasil menyedot perhatian masyarakat Bandung. Masyarakat bisa mengunjungi Pasar seni ini dengan cuma-cuma. Dengan biaya nol rupiah, semua orang sudah bisa menikmati berbagai hiburan seperti pameran kesenian dan pegelaran musik di berbagai spot di seluruh penjuru kampus. Tak hanya itu, pengunjung dapat mengunjungi stand makanan dan souvernir di sepanjang jalan kampus.
Bagi Anda yang belum sempat datang ke acara akbar ini,silakan tunggu acara selanjutnya pada tahun 2014.
Tuesday, January 27, 2009
roadshow...
Acara ini merupakan rutinitas tahunan yang diadakan Forum Mahasiswa Garut ITB. Sebagai angkatan termuda, saya bertugas sebagai ujung tombak pelaksanaan acara ini. Kami mendatangi (sedikit) SMA-SMA untuk memberikan informasi mengenai ujian masuk perguruan tinggi khususnya ITB. Pada dasarnya misinya seperti itu. Namun, secara frontal saya sedikit mengesampingkan jas almamater berwarna hijau tua. Kenapa? Ini kota saya. Siapapun harus dapat bersekolah. Dimanapun. Bagaimanapun.
Mungkin banyak diantara adik kelas yang saya datangi tidak tertarik memiliki ijazah bercap gajah aneh yang sedang duduk diatas buku terbuka ini. Bahkan mungkin lagi ada beberapa yang tidak berniat melanjutkan sekolah karena sesuatu hal. Saya kurang lebih dapat membedakan ekspresi wajah-wajah saat mereka saya datangi.
Sekolah yang terdatangi diantaranya SMA Cikajang, SMA Cibatu, SMA 1 Garut, SMA 1 Tarogong Kidul, SMA Cisurupan, SMA Malangbong, SMA Karangpawitan. SMA tanpa angka berlokasi lumayan jauh dengan garut kota sebagai pusat kota. Dengan letak geografis yang demikian tentu terdapat beberapa perbedaan. Tanpa mengurangi rasa simpati saya sering menyebut lokasi itu sebagai garut coret jika sedang ingin meledek teman saya yang berasal dari sana.
Banyak yang menarik dari sekolah-sekolah itu walaupun jelas sangat berbeda dengan sekolah almamater saya. Ketika saya masuk ke kelas di sekolah yang dulu menjadi tempat saya belajar, sebelum memperkenalkan diri, dengan tepukan tangan dari adik kelas bahkan beberapa anak terdengar menyebut kata asyik, mereka menyambut hangat kedatangan saya dan dua teman yang tidak lain teman sekelasku saat SMA. Sesungguhnya saya tidak perlu berformalitas ria untuk memperkenalkan diri karena adik kelas itu tidak lain adalah teman-teman saya sewaktu SMA. Tetapi sekarang lain ceritanya. Mereka yang sering mengobrol di kantin bersama dan memanggilku tanpa embel-embel Kakak, Mbak atau Teteh kini memaggilku di kelas dengan embel-embel tak penting seperti itu sebagai tanda acara resmi. Ya, kaya sekali akan informasi karena dikelas saja bebas mengakses internet dengan fasilitas yang tersedia. Mungkin sedikit terbayang tentang ruang kelas standar internasional yang representatif dilengkapi fasilitas berteknologi mutakhir. Itu sebagai pembanding saja. Karena sebenarnya bukan itu yang akan saya deskripsikan.
Sekolah tak berangka itu memang sekolah favorit daerah yang tercantum. Mendengar cerita guru-guru yang mengajar disana, siswa yang bersekolah disana memiliki ekonomi yang cukup untuk meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi namun motivasi dan wawasan mengenai pendidikan orang tua mereka tidak lebih tinggi dari status ekonomi yang mereka punya. Walaupun secara pribadi saya mendukung orang yang tidak melanjutkan sekolah dengan alasan yang sangat kuat dan memiliki pekerjaan bahkan membuka lapangan kerja sendiri setelah lulus sekolah. Namun ini lain halnya, mereka tidak meningkatkan skil dengan les atau mengikuti berbagai seminar atau menambah wawasan dengan menggali informasi dari berbagai media. Seteah lulus, bertani, menikah, beranak, menyekolahkan, terus demikian tanpa progress signifikan. Beberapa orang tua mungkin berpendapat bahwa signifikasi pendidikan tidak sebanyak praktik saat mencangkul langsung. Sebelum guru itu menjelaskan sedikit latar belakang siswa yang beliau ajari, sedikitnya saya sudah mengetahui hal tersebut buah percakapan petang bersama orangtuaku setelah makan malam. Orangtuaku selalu memiliki topik menarik untuk diperdebatkan, walau tidak jarang perbincangan itu bersambung entah kapan akan tersambung lagi.
Saya sangat senang merubah ekspresi orang, merubah mimik mereka yang terlihat muram, kurang bergairah menjadi sesuatu yang cerah penuh antusiasme dan rasa penasaran akan sesuatu hal. Saya juga senang melihat orang menyesal. Menyesal karena tidak mendengarkan informasi dari awal.
Menjadi ujung tombak acara roadshow ini tidak terlalu jauh dengan salesman dan salesgirl. Harus bisa mengajak orang mengikuti alur cerita dan tiba-tiba ditengah problema yang kita beri, rekomendasikan suatu pemecahan masalah. Disitulah akan terlihat perubahan mimik yang terlalu indah untuk dinikmati.
Cita-cita untuk meningkatkan mutu pendidikan orang Indonesia bukan perkara yang mudah ternyata. Mulai dari hal kecil seperti ini saja sudah menuai banyak cerita. Dengan orasi yang sedikitnya akan mengubah cara pandang mereka saya lihat beberapa diantara mereka mengiya-iyakan orasi provokatif saya. Itulah yang sebenarnya saya tuju. Memasuki. Merasuki. Menusuk. Meyakinkan. Mengajak. Dan mengubah.
Sebelum meninggalkan kelas tempat saya berorasi, saya mencantumkan nomor kontak saya, saya sedikit menekankan pada mereka untuk menghubungi saya saat mempunyai pertanyaan mengenai perkuliahan.
Kejutan..
Saya salah besar. Bohong belaka jika orang Indonesia tidak sadar akan pendidikan. Setelah mendapat sedikit penerangan, ternyata mereka sangat tertantang untuk mengenyam pendidikan. Tidak sedikit anak daerah menghubungi untuk menanyakan satu atau dua pertanyaan seputar perkuliahan. Bayangkan jika dari satu kelas sudah ada beberapa siswa yang berubah pola pikir setelah mendengarkan orasi, dalam satu sekolah seantero Indonesia tanpa terkecuali di pelosok akan berapa banyak orang yang sedikitnya terselamatkan dari pola pikir yang kurang tepat.
Itulah kurang lebih yang saya harapkan dalam acara roadshow ini. Adakah yang mempunyai inisiasi lain?
Monday, October 13, 2008
mencuci kapal
"mandi dulu lah ani..!"
"cepat"
"gw mandinya 45 menitan..hehe"
"itu sih cuci kapal"
ah ada-ada saja temanku!!
Tuesday, October 7, 2008
obralan maaf
Monday, September 29, 2008
layangan
sembarangan mendapat tarikan dan uluran.
jangan terlalu ditarik! dia suka kebebasan.
jangan terlalu diulur! dia senang melayang.
talinya ada yang mengendalikan.
kini terasa dipermainkan.
anjing!!
tolong atur ketinggian.
bangsat!!
aturlah keseimbangan.
dia berteriak namun tak didengar.
merintih tak ada yang memedulikan.
sebenarnya layangan itu begitu memesona.
tapi karena kejauhan,tak satupun orang pantai melihat.
lama-lama talinya putus.
di daratan orang berlari mengejarnya.
malawan angin yang membawanya.
layangan fobia ketinggian.
layangan fobia ketinggian.
jangan jadi layangan!
berhenti jadi layangan!
layangan fobia ketinggian.
layangan fobia ketinggian.
basahi ragamu agar tak jadi terbang.
layangan fobia ketinggian.
layangan fobia ketinggian.
belajarlah menyukai ketinggian.
*maaf demi keaslian tulisan, ada kata yang tidak lulus sensor
gelang hampir putus
Wednesday, September 10, 2008
nol tidak dan atau bukan kosong
kami mulai menggoreskan pena
bertatap muka dalam gedung tinggi sudah tua
lalu mulai berkata-kata
dimulai dengan celotehanku tentang angka 0 (nol)
sekali lagi itu angka bukan sesuatu yang tak ada
tiga orang dihadapanku sedikit mengerutkan keningnya
mengangguk tanda setuju
jangan sekali-kali menyebut angka nol dengan kata kosong
nol tidak kosong
nol tidak tak bernilai
nol merupakan sesuatu yang ada
apa jadinya suatu persamaan kuadarat sama dengan kosong?
apa yang akan anda lakukan terhadap operasi persamaan tersebut?
sekali lagi nol tidak dan atau bukan kosong.
Saturday, August 2, 2008
tamansari entah dimana
ada sedikit deskripsi mengenai tempat ini. berjalan sekitar sepuluh menit bahkan lebih dari gedung annex (direktorat ITB) menjauhi flyover. hampir saja putus asa mencari tempat yang bisa online. rumah makan padang yang melambai mendukung keputusasaanku dan menggiringku masuk untuk makan. tentu tidak. aku kurang cukup lapar. dan tak mau terlihat bodoh makan sendiri.
satu jam begitu cepat ternyata,aku harus kembali ke gedung bodoh tak berlogika itu. kapan aku harus berhenti mengantre? apa-apa mengantre. ini itu baris lagi baris lagi. adakah sistem yang lebih efisien untuk digunakan. tak ada salahnya mengambil formulir di alam maya.
kali ini aku bagai tercecer! barisan orang-orang yang bermata sipit dan melihatku sama seperti melihat mesin. apakah ini yang dinamakan manusia?
hha..aku tertawa,,padahal tak perlu seperti inipun mereka sudah terlihat jenius. tak perlu berlagak sok serius. atau memang semuanya serius?
Monday, May 19, 2008
grafik kehidupan
Banyak sekali manfaat matematika. Termasuk analoginya dengan kehidupan. Perhatian saya jatuh pada suatu kurva mulus yang menghadap ke bawah. Persamaannya ax2 + bx + c dengan a negatif dan c merupakan suatu bilangan konstanta. Tentu jika melihat persamaan tersebut, dapat disimpulkan bahwa titik puncak kurvanya bernilai maksimum.
Begitu pula dengan hidupnya suatu makhluk. Dari tak bernilai dapat dibuat berharga dengan mengganti variabel x-nya. Bayi belajar makan makanan yang lunak semakin keras, semakin keras lagi, kembali lagi menjadi lunak dan tak bisa makan sama sekali. Tingkat produktivitas yang paling tinggi digambarkan pada titik puncak kurva tersebut. Namun hanya Yang Maha Esa saja yang mengetahui sepanjang apa kurva yang akan tebentuk dan kapan terjadi titik puncak tersebut.
aman!!
Kenapa namanya harus BADminton tidak GOODminton? Siapa yang menamainya? Adakah yang mengetahuinya? Coba ceritakan pada saya.
I luv indonesia. tiga kata yang pantas terlontar saat menyaksikan perebutan piala Thomas & Uber Cup 2008. Walaupun indonesia kalah tapi rasanya cukup puas mendapatkan medali perak bagi kaum kartininya.
Aman. Ya penonton yang memadati Istora Senayan sangat menjaga keamanan. Supporter yang biasanya anarkis jiga menderita kekalahan kini tidak lagi. Tepuk tangan bergemuruh di sela pertandingan. Baik shuttle cock jatuh di lapang lawan maupun di lapang sendiri. Tak peduli point untuk siapa atau service milik siapa, gebukan dua balon tetap terdengar nyaring. Pertahankan!
Lihat jarak antara penonton dengan lapang badminton di Istora. Pembatasnya hanya sebuah papan pariwara sponsor saja. Begitu dekat dengan hakim garis dan pemain yang hendak membuang peluh. Tak ada penonton yang melempar sesuatu ke lapang apalagi sampai memukul wasit. Ini menunjukan bahwa tingkat kesadaran masyarakat semakin tinggi. Sportivitas semakin dijunjung tinggi pula. Jika diamati tentu itu bukan suatu kebetulan belaka. Hal-hal tersebut menrefleksikan beberapa aspek kehidupan yaitu nilai-nilai religi, moral dan sumber daya manusia. Kenapa? Karena tingkat kesadaran masyarakat bisa dikatakan berbanding lurus dengan tiga aspek tadi.
Anarkisme masyarakat dapat dijadikan salah satu indikator unemployment. Radikalnya untuk apa melakukan hal-hal memalukan seperti melakukan pengrusakan jika di luar sana masih banyak urusan dan pekerjaan yang belum terselesaikan. Selain itu bagi yang taat beribadat pasti ingin segera ketemuan dengan Sang Khalik untuk berzikir dan berdoa. Bukan begitu?
Saturday, May 10, 2008
Oom Bill Gates Singgah ke Rumahku
“Time is money” mungkin itu menjadi salah satu dari beribu-ribu motto hidup yang Bill Gates miliki sehingga dia hanya mempunyai waktu 48 jam saja untuk menginjakkan kakinya di
Oom engGates, begitulah sapaan akrabku kepadanya. Karya nyatanya selalu menemani saat membuat tugas sekolah. Tentu saja dia sudah sangat dekat dengan kami, anda, dan kita semua. Dialog munggaran saat dia singgah dulu ke rumahku ya tentu saja ” How do you do. I’m ani. Nice to meet you.” Dia akan menjawab “How do you do. Nice to meet you too.” Overconvident! Kenapa dia tidak menyebutkan namanya. Biarlah memang semua orang sudah tahu siapa dia. Salah satu orang terkaya di dunia* ini ku suguhi kopi asli
Tidak banyak berbasa-basi aku mengajak oom engGates melihat komputer kesayanganku.
“ Look at my computer! In 2008, I’m still using Office 2003.
I don’t have a latest one.
Poor me.
Its look so classic, isnt it?
I use dial up for my internet access at my home.
The fastest speed is just 56,6 KBps.
Sometime I go to internet access rent, we call it warnet, the maximum speed is 100 Mbps.
But it use for till 10 units of computer some warnet have more than 10. with these facilities, I cant download my fav band video clips fast.
To get just 4 videos I need 1 hour in day, 30 minutes in night.
I have limit time so I cant stay online for much time.
John, Flea, Anthony and
Do you understand what I mean?
Hmm,,this one my problem, the original software CD installers are too expensive for me as student.
In the other side I need them.
I cant refuse the piracy. Sorry.
Do you have an idea to solve my problem?”
Seperti itulah kalau oom engGates datang ke rumahku.
Salut! Walaupun anak DO-an
Sebagian orang di Indonesia mengikuti perkembangan IT dengan baik. Menyambut digital decade. Bersua dengan orang di seluruh dunia tanpa batas jarak. Bagaimana dengan yang sebagiannya lagi. Jangankan memikirkan informasi. Membeli minyak tanah saja kurang mampu. Sembako terus naik. Anak yang harusnya diberi asupan gizi agar membantu pertumbuhan otak, malah menderita busung lapar, gizi buruk, atau marasmus. Kejadian ini begitu timpang. Anak kecil yang harusnya menjentikkan jari-jarinya di atas keyboard dan menatap layar monitor terpaksa melepaskan baju seragam untuk membantu orang tua mencari sesuap nasi. Miris sekali. Beberapa golongan kurang siap akan digital decade yang oom Bill Gates katakan. Bagaimana ini?
Oom baik sekali memberi bantuan pada kami dengan memberikan harga 200 dolar saja untuk satu unit komputer dengan software gratis. Tapi oom kalau amal jangan kepalang tanggung. Sudah saja gratiskan. Sumbangannya langsung dalam bentuk barang dan serahkan langsung pada sekolah-sekolah yang berhak. Jangan terlalu banyak distributor. Bisa-bisa dari 10 komputer yang disumbangkan hanya 1 saja yang masih utuh.
Sering-seringlah datang kemari. Negara jamrud khatulistiwa. Semoga badan anda membawa virus baik yang mewabahi generasi muda dalam berkarya. Selamat jalan. Nanti kami yang gantian mengunjungi microsoft coorp. Tunggu ya!
*versi salah satu majalah United States
Detektif Krupuk
Hari ke hari krupuk yang biasa menemani nasi makan ini semakin mengecil saja. Ada dua opsi dalam perubahan pada diri krupuk yaitu jika harganya naik maka besarnya tetap dan jika harganya tetap kerupuknya yang mengecil.
Ternyata bukan Conan saja yang badannya mengecil. Krupuk juga. Aku bertanya pada pedagang kenapa ini seperti bukan krupuk yang biasa. Pedagang itu malah seperti curhat akan melonjaknya harga bahan-bahan dasar. Menyesal kubertanya. Tak bisalagi berkata-kata. Memang seperti itu keadaannya. Aku tak begitu mengerti dengan keadaan ekonomi. Hanya mendengar dari para pedagang martabak dan gorengan saja. Banyak yang mengeluh. Kapankah ini berakhir? Ku rindu gelak tawa pedagang mujur nan banyak untung.
